Pendakian panjang Lawu 3.265 MDPL Ceto

Gunung Lawu terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Puncak tertinggi gunung Lawu (Puncak Argo Dumilah) berada pada ketingggian 3.265 MDPL. Gunung Lawu merupakan salah satu gunung yang masuk jajaran The Seven Summits of Java (Tujuh Puncak Tertinggi Pulau Jawa). Selain keindahan alamnya, Gunung Lawu memiliki kisah-kisah menarik lainnya. Salah satunya saya mau melihat warung tertinggi “Mbok Yem”, warung itu viral dan semua orang ingin tau warung itu. Itu juga yang membuat saya penasaran mau ikut pendakian ke Gunung Lawu.

Saya pergi ke Gunung Lawu bersama dengan komunitas Backpacker Jakarta yang dikordinir oleh bang Martha dan Bang Rokhan. Peserta yang  ikut pendakian Gunung Lawu bulan November   berjumlah 13 orang.

Persiapan pendakian pun dimulai, saya lari selama 1 bulan lebih dan persiapan perlengkapan selama pendakian mulai dari, sleeping bag, matras, tiket kereta pulang pergi sudah jauh-jauh hari saya beli  untuk jadwal rencana pendakian kami pada tanggal 01 November 2019 – 03 November 2019.

Selama mempersiapkan kebutuhan dan perlengkapan di Lawu, saya pun menunggu kabar pastinya untuk tanggal keberangkatan dikarenakan saya dapat kabar, ada terjadi kebakaran hutan Lawu. Teman-teman saya  pun masih terus mencari kabar apakah wilayah pendakian sudah bisa dibuka atau belumnya. Apapun yang terjadi, destinasi perubahan sudah siap diganti. Tanggal 01 Nov  2019, kami siap  berangkat.

Kami pun mulai awal pendakian dari Candi Ceto, jalur pendakian ini berada di sisi barat laut Gunung Lawu tepatnya di Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Turunnya kami lewat jalur Cemoro Sewu, wilayah ini terletak di jalan antara kabupaten Karang Anyar dan Magetan tepatnya di jalan dari Tawangmangu menuju sarangan.

Pendakian Via Ceto
Depan Candi Ceto

Pendakian ini dilalui menelusuri 5 pos – pos dan perjalanan via Ceto ini cukup panjang dan melelahkan. Persiapan fisik memang sangat diperlukan banget. Jalur-jalur yang dilalui di setiap pos-pos nya juga memiliki banyak pemandangan yang indah salah satunya ada teman-teman yang sudah pernah dan dia cerita, ada pemandangan savana yang keren banget loh.

Ternyata saat perjalanan melalui pos-pos itu tiba-tiba hujan lebat, jalanan pun licin dan kita sangat berhati-hati. Tak lupa, sebelum berangkat melalui gerbang Ceto itu, teman kami sudah mengingatkan untuk membeli dan membawa jas hujan. Saya lupa bawa jas hujan dan saya disuruh abang Budi , “bek, beli itu jas huja di warung sana” ,  saya lupa bawa jas hujan.

Pendakian menanjak tapi tracking gak terlalu securam dan gak terlalu banyak batu yang tajam tapi tanjakan terus setiap pos ke pos yang satunya. Pos 1 ini di ketinggian 1.600 MDPL, lumayan untuk kami beristirahat selama 10 menit sebelum perjalanan kami lanjutkan ke pos 2.

Tiba di Pos 1

Akhirnya kami tiba di pos 2, pos 2 ini di ketinggian 2.250 MDPL. Kami istirahat sampai agak reda hujannya untuk makan siang dan kami istirahat sekitar 20 menit sebelum kami melanjutkan perjalanan kami ke pos 3. Disini, saya sempatka untuk makan yang telah saya beli lumayan untuk mengisi kekosongan perut dan kelelahan saya pendakiannya.

Ini lah pos 2

Lalu perjalanan sambil hujan rintik-rintik pun tetap kami lakukan untuk mengejar pos selanjutnya agar tidak terlalu malam di pos 4 nantinya. Perjalanan dari pos 2 ke pos 3 ini cukup panjang dan lama, menurut saya.  Bersyukurnya menuju pos 3 ada sebuah mata air yang jernih banget. Pos ini di ketinggian 2.250 MDPL, kaki saya pun agak sakit di betisnya. Kami mengisi air di mata air itu penuh semua botol nya dan kami istirahat selama 30 menit.

Mata air pos 3

Untuk mengejar pos 4 tidak terlalu malam, maka kami pun mengejar dengan semangat menuju pos 4. Perjalanan ini dari pos 3 ke pos sekitar 2 jam lalu kami berhenti selama 15 menit di pos 4 dan melanjutkan perjalanan menuju ke pos 5. Dalam perjalanan menuju pos 5 kami disambut padang savana yang indah dan keren banget.

padang savana

Sejenak saya  menikmati padang savana lalu kami mendirikan tenda di bawahnya pos 5 setelah melewati padang savana. Disini kita bersitirahat sampai besok pagi nya sekitar jam 9 pagi kita melanjutkan perjalan menuju pos 5  dari tempat camp kita. Saat di camp  ini saya mengalami kedinginan yang luar biasa dinginnya ditambah dengan adanya hujan deras membuat cuaca dan suasana menjadi dingin banget.

Inilah makanan kita selama camp

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari tempat camp menuju ke pos 5 sekitar 10 menit dan kita melewati gupak menjangan lalu melewati pasar dieng. Saat melewati pasar dieng, kelompok kami berjalan selalu bersamaan dan tidak boleh terpisah dari depan sampai kebelakang agar tidak ada yang tersasar dan tersesat saat terlalu jauh dari barisan kelompok.

Di pasar inilah, saya sendiri  mulai merasakan hal-hal yang mistis. Saya tidak mencari tau awalnya mengenai mistis apa aja di Gunung Lawu tapi ternyata saat melewati pasar dieng tiba-tiba saja bulu kuduk saya merinding.  Saat di pasar dieng ini, kami tidak ada sama sekali mengambil foto dan dilarang berkata yang negatif dan aneh. Dilarang keras juga berpikiran yang negatif. Kami berjalan bersamaan dan tidak boleh terpisahkan atau menjauh satu sama lain di barisan depan hingga belakang.

 

 

Setelah melewati pasar Dieng kami tiba di puncak nya di Argo Dalem, tempatnya warung tertinggi yaitu Warung Mbok Yem. Disini, kita bisa melepaskan kelelahan kita selama perjalanan yang sangat panjang. Di warung Mbok Yem disedikan makanan pecel sayur, mie instan dan minuman lainnya dan harganya juga tidak terlalu mahal cukup dikantong kita.

Sejenak istirahat di warung Mbok Yem, saya langsung melanjutkan naik ke puncak LAWU nya bersama teman-teman lainnya.

Bersama teman-teman team Backpacker Jakarta

Untuk mempersingkat waktu, kami segera melanjutkan perjalanan pulang kami, melewati Cemoro Sewu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *